Tampilkan postingan dengan label BUKU GRATIS. Tampilkan semua postingan

DAFTAR BUKU GRATIS! SILAHKAN DOWNLOAD


NO
JUDUL BUKU
PENULIS/EDITOR
DOWNLOAD
1
EMPAT ESAI ETIKA POLITIK
F. BUDI HARDIMAN
ROBERTUS ROBET
A. SETYO WIBOWO
THOMAS HIDYA TJAYA
2
CITRA MANUSIA INDONESIA DALAM KARYA SASTRA PRAMOEDYA ANANTA TOER
Prof. Dr. A. Teeuw
3
DEMOKRASI DI INDONESIA VISI DAN PRAKTEK
[OPINI KORAN KOMPAS]
DENNY JA
4
DALIH PEMBUNUHAN MASSAL GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO
JOHN ROOSA
5
MANUSIA BEBAS
SUWARSIH DJOJOPUSPITO
6
DUNIA MISTIK ORANG JAWA ; ROH, RITUAL, BENDA MAGIS
CAPT. R.P. SUYONO
7
ETIKA JAWA "SEBUAH ANALISA FALSAFI TENTANG KEBIJAKSANAAN HIDUP JAWA"
FRANS MAGNIS SUSENO
8
ISLAM DAN PEMBANGUNAN
JOHN L. ESPOSITO
9
ILUSI NEGARA ISLAM 'EKSPANSI GERAKAN ISLMA TRANSNASIONAL DI INDONESIA'
ABDURRAHMAN WAHID [Ed]
10
MEIN KAMPF
ADOLF HITLER
11
MEMBELA KEBEBASAN 'PERCAKAPAN TENTANG DEMOKRASI LIBERAL'
HAMID BASYAIB [Ed]
12
MITOLOGI
ROLAND BARTHES
13
SEJARAH INDONESIA MODERN [1200-2004]
M.C. RICKLEFS
14
SEJARAH INDONESIA: PERSPEKTIF LOKAL DAN GLOBAL
SRI MARGANA & WIDYA FITRIANINGSIH [Ed]
15
CATATAN BUNG KARNO 2: THE OTHER STORIES
KOESALAH SOEBAGYO TOER
16
MANUVER ELIT, KONFLIK DAN KONSERVATISME POLITIK
DENNY J.A
17
SERAT CEBOLEK
Alih Bahasa: SUDIBJO Z. HADISUTJIPTO
18
EKSPERIMEN DEMOKRASI: DILEMA INDONESIA
DENNY J.A
19
VISI INDONESIA BARU SETELAH REFORMASI 1998
DENNY J.A
20
STATISTIK UNTUK PENELITIAN
SUGIYONO
21
KUMPULAN MUTIARA AMANAT BUNG KARNO
BUNG KARNO
22
MANUSIA BEBAS
SUWARSIH DJOYOPUSPITO
23
ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL [DISIPLIN DAN METODOLOGI]
MOHTAR MAS'OED
24
FILSAFAT ESTETIKA [Sebuah Pengantar]
WADJIZ ANWAR, L. Ph.
25
JALAN PANJANG REFORMASI
DENNY JA


















































DALIH PEMBUNUHAN MASSAL GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SOEHARTO [BUKU]


Kebenaran tentang perebutan kekuasaan tidak boleh dibikin jelas; pada mulanya ia terjadi tanpa alasan tapi kemudian menjadi masuk akal. Kita harus memastikan bahwa kebenaran itu dianggap sah dan abadi; adapun asal-muasalnya sendiri harus disembunyikan, jika kita tidak ingin kebenaran itu cepat berakhir. Blaise Pascal, Pensées (1670).

Bagi sejarawan yang ingin memahami perjalanan sejarah Indonesia modern, hal yang terkadang menimbulkan rasa frustrasi ialah justru karena kejadian yang paling misterius ternyata merupakan salah satu babak kejadian yang terpenting. Pada dini hari 1 Oktober 1965, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letnan Jenderal Ahmad Yani dan lima orang staf umumnya diculik dari rumah-rumah mereka di Jakarta, dan dibawa dengan truk ke sebidang areal perkebunan di selatan kota. Para penculik membunuh Yani dan dua jenderal lainnya pada saat penangkapan berlangsung. Tiba di areal perkebunan beberapa saat kemudian pada pagi hari itu, mereka membunuh tiga jenderal lainnya dan melempar enam jasad mereka ke sebuah sumur mati. Seorang letnan, yang salah tangkap dari rumah jenderal ketujuh yang lolos dari penculikan, menemui nasib dilempar ke dasar sumur yang sama. Pagi hari itu juga orang-orang di balik peristiwa pembunuhan ini pun menduduki stasiun pusat Radio Republik Indonesia (RRI), dan melalui udara menyatakan diri sebagai anggota pasukan yang setia kepada Presiden Sukarno.

Adapun tujuan aksi yang mereka umumkan ialah untuk melindungi Presiden dari komplotan jenderal kanan yang akan melancarkan kudeta. Mereka menyebut nama pemimpin mereka, Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa, yang bertanggung jawab mengawal Presiden, dan menamai gerakan mereka Gerakan 30 September (selanjutnya disebut sebagai G-30-S). Dalam sebuah unjuk kekuatan, ratusan prajurit pendukung G-30-S menduduki Lapangan Merdeka (sekarang Lapangan Monas) di pusat kota. Lalu pada sore dan petang hari 1 Oktober, seperti menanggapi isyarat dari Jakarta, beberapa pasukan di Jawa Tengah menculik lima perwira pimpinan mereka. Kesulitan memahami G-30-S antara lain karena gerakan tersebut sudah kalah sebelum kebanyakan orang Indonesia mengetahui keberadaannya. Gerakan 30 September tumbang secepat kemunculannya. Dengan tidak adanya Yani, Mayor Jenderal Suharto mengambil alih komando Angkatan Darat pada pagi hari 1 Oktober, dan pada petang hari ia melancarkan serangan balik. Pasukan G-30-S meninggalkan stasiun RRI dan Lapangan Merdeka yang sempat mereka duduki selama dua belas jam saja. Semua pasukan pemberontak akhirnya ditangkap atau melarikan diri dari Jakarta pada pagi hari 2 Oktober. 

Di Jawa Tengah, G-30-S hanya bertahan sampai 3 Oktober. Gerakan 30 September lenyap sebelum anggota-anggotanya sempat menjelaskan tujuan mereka kepada publik. Pimpinan G-30-S bahkan belum sempat mengadakan konferensi pers dan tampil memperlihatkan diri di depan kamera para fotografer. Kendati bernapas pendek, G-30-S mempunyai dampak sejarah yang penting. Ia menandai awal berakhirnya masa kepresidenan Sukarno, sekaligus bermulanya masa kekuasaan Suharto. Sampai saat itu Sukarno merupakan satu-satunya pemimpin nasional yang paling terkemuka selama dua dasawarsa lebih, yaitu dari sejak ia bersama pemimpin nasional lain, Mohammad Hatta, pada 1945 mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Ia satu-satunya presiden negara-bangsa baru itu. Dengan karisma, kefasihan lidah, dan patriotismenya yang menggelora, ia tetap sangat populer di tengah-tengah semua kekacauan politik dan salah urus perekonomian pascakemerdekaan. Sampai 1965 kedudukannya sebagai presiden tidak tergoyahkan. Sebagai bukti popularitasnya, baik G-30-S maupun Mayor Jenderal Suharto berdalih bahwa segala tindakan yang mereka lakukan merupakan langkah untuk membela Sukarno. Tidakada pihak mana pun yang berani memperlihatkan pembangkangannya terhadap Sukarno.

Suharto menggunakan G-30-S sebagai dalih untuk merongrong legitimasi Sukarno, sambil melambungkan dirinya ke kursi kepresidenan. Pengambilalihan kekuasaan negara oleh Suharto secara bertahap, yang dapat disebut sebagai kudeta merangkak, dilakukannya di bawah selubung usaha untuk mencegah kudeta. Kedua belah pihak tidak berani menunjukkan ketidaksetiaan terhadap presiden. Jika bagi Presiden Sukarno aksi G-30-S itu sendiri disebutnya sebagai “riak kecil di tengah samudra besar Revolusi [nasional Indonesia],” sebuah peristiwa kecil yang dapat diselesaikan dengan tenang tanpa menimbulkan guncangan besar terhadap struktur kekuasaan, bagi Suharto peristiwa itu merupakan tsunami pengkhianatan dan kejahatan, yang menyingkapkan adanya kesalahan yang sangat besar pada pemerintahan Sukarno. Suharto menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) mendalangi G-30-S, dan selanjutnya menyusun rencana pembasmian terhadap orang-orang yang terkait dengan partai itu. Tentara Suharto menangkapi satu setengah juta orang lebih. Semuanya dituduh terlibat dalam G-30-S.

Dalam salah satu pertumpahan darah terburuk di abad keduapuluh, ratusan ribu orang dibantai Angkatan Darat dan milisi yang berafi liasi dengannya, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, dari akhir 1965 sampai pertengahan 1966. Dalam suasana darurat nasional tahap demi tahap Suharto merebut kekuasaan Sukarno dan menempatkan dirinya sebagai presiden de facto (dengan wewenang memecat dan mengangkat para menteri) sampai Maret 1966. Gerakan 30 September, sebagai titik berangkat rangkaian kejadian berkait kelindan yang bermuara pada pembunuhan massal dan tiga puluh dua tahun kediktatoran, merupakan salah satu di antara kejadian-kejadian penting dalam sejarah Indonesia, setara dengan pergantian kekuasaan negara yang terjadi sebelum dan sesudahnya: proklamasi kemerdekaan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, dan lengsernya Suharto pada 21 Mei 1998.

Bagi kalangan sejarawan, G-30-S tetap merupakan misteri. Versi resmi rezim Suharto - bahwa G-30-S adalah percobaan kudeta PKI - tidak cukup meyakinkan. Sukar dipercaya bahwa partai politik yang beranggotakan orang sipil semata-mata dapat memimpin sebuah operasi militer. Bagaimana mungkin orang sipil dapat memerintah personil.....[Untuk lebih lengkapnya, silahkan Download disini]

DEMOKRASI INDONESIA : VISI DAN PRAKTEK


[BUKU GRATIS] DEMOKRASI adalah sebuah kerja kultural, sosial dan politik sekaligus. Ia tidak hanya soal membangun pranata politik semisal dewan perwakilan atau pemilu. Demokrasi adalah juga perkara membangun sikap mental, spirit, yang merupakan core values dari demokrasi itu sendiri semisal toleransi, kesamaan dan kebebasan. Karena itu ia hadir sekaligus sebagai kebutuhan budaya, sosial, dan politik. Sebagai sebuah kerja besar, demokrasi memerlukan komitmen seorang intelektual guna memberi visi tentang arah, sense of direction, sekaligus menyediakan bingkai dan perspektif bagi politik sehari hari sehingga tetap berada dalam arah yang sudah disepakati. Ia juga memerlukan ketekunan seorang pelukis untuk meletakkan bagian demi bagian pada tempatnya. Ia juga memerlukan sikap kritis dan ketajaman seorang ahli hukum, untuk menggugat jalannya bila menyimpang. DOWNLOAD

BUKU-BUKU SILAHKAN DOWNLOAD

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL
GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO
DOWNLOAD

MANUSIA BEBAS
Oleh:
Suwarsih Djojopuspito
Penerbit Djambatan

MEMAHAMI ILMU POLITIK
Oleh: 
Ramlan Surbakti
Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia

BUKU-BUKU LAINNYA
SILAHKAN DI DOWNLOAD BRO'

FILSAFAT ETIKA (PENGANTAR)
Buku yang ditulis oleh WADJIZ ANWAR L. Ph ini adalah buku pengantar untuk mempelajari filsafat Estetika. Buku ini diterbitkan pada tahun 1980 oleh Penerbit Nur Cahaya Yogyakarta.

CHARIOTS OF THE GODS? 
BY: ERICH VON DANIKEN

4 ESAI ETIKA POLITIK
Penulis:
F. BUDI HARDIMAN, ROBERTUS ROBET, A. SETYO WIBOWO, THOMAS HIDYA TJAYA
👉DOWNLOAD

ILUSI NEGARA ISLAM
EKSPANSI GERAKAN ISLAM TRANSNASIONAL DI INDONESIA
Editor: KH. Abdurrahman Wahid
Prolog: Prof. Dr. Ahmad Syafi'i Ma'arif
Epilog: KH. A. Mustofa Bisri
👉DOWNLOAD

BUKU LAINNYA....
SILAHKAN KLIK DISINI!

FILSAFAT ESTETIKA (PENGANTAR)

Buku yang ditulis oleh WADJIZ ANWAR L. Ph ini adalah buku pengantar untuk mempelajari filsafat Estetika. Buku ini diterbitkan pada tahun 1980 oleh Penerbit Nur Cahaya Yogyakarta. 

"Estetika dalam arti teknis ialah ilmu keindahan, ilmu mengenai kecantikan secara umum. Kita memandang alam disekeliling kita dan kita menjumpai keindahan dan kecantikan terdapat dimana-mana. Keindahan pemandangan pohon bamboo yang menjulang diatas desa-desa negeri kita. Keindahan laut yang membanting ditepi pantai. Suarapun mempunyai keindahan. Gerak langit dan gerak penaripun ada keindahannya. Disamping keindahan yang terdapat didalam alam itu kita sebagai manusia juga membuat beberapa keindahan yang kita tuangkan didalam karya-karya seni. Kita merasakan keindahan-keindahan itu dan menikmatinya. Akan tetapi dengan demikian itu kita belum menjadi ahli-ahli estetika. Estetika bukanlah cara untuk menikmati keindahan, tetapi usaha-usaha untuk memahaminya." (Download Buku disini)

4 ESAI ETIKA POLITIK

Penulis:
F. BUDI HARDIMAN, ROBERTUS ROBET, A. SETYO WIBOWO, THOMAS HIDYA TJAYA

Pengantar
BAGUS TAKWIN

Membuat pengantar untuk beragam pemikiran politik yang diwadahi oleh tulisan-tulisan di buku ini membuat saya harus memikirkan kembali makna politik. Jürgen Habermas, Jacques rancière, albert Camus, dan Emmanuel Levinas adalah pemikir-pemikir orisinil yang punya konsep masing-masing tentang etika politik. Sudut pandang, bangunan logika, dan gaya penuturan mereka sangat khas. Tetapi intuisi saya menangkap adanya persamaan di antara keempatnya. Untuk itu, saya harus kembali merunut dari awal, dari pengertian politik aristoteles dan implikasi-implikasinya, juga dari fakta kehidupan bersama yang dijalani manusia. 

Politik pada awalnya dimaknai sebagai pengelolaan polis di masa Yunani kuno, atau hal-hal mengenai polis (makna harafiahnya: kota; sering dipadankan dengan istilah “negara-kota”). Polis merupakan tempat individu manusia bergabung. Aristoteles menyatakan, polis adalah tempat terbaik bagi manusia, meleluasakan orang mencapai tujuannya, mencapai yang terbaik. Manusia mengaktualisasi dirinya dan berfungsi optimal dalam kebersamaannya dengan manusia lain, di dalam polis. Politik mengikhtiarkan optimalnya kehidupan bersama sehingga aktualisasi diri dan fungsi optimal individu dapat berlangsung serta pencapaian kebahagiaan dapat dilakukan.

Dari situ bisa kita pahami, politik adalah implikasi dari kehidupan bersama. Keberadaan manusia dengan manusia lain di dunia, kehidupan bersama di sebuah wilayah, memerlukan pengaturan agar orang-orangnya dapat memenuhi kebutuhan dan mengembangkan dirinya masing-masing, lebih jauh lagi bersama-sama mengembangkan dunia. Pengaturan menjadikan kebersamaan itu bukan sekadar kumpulan atau kerumunan orang, melainkan himpunan yang memiliki struktur dan aturan, sebuah masyarakat. Orang-orang yang terhimpun di dalamnya punya hak dan kewajiban, bukan hanya bertanggungjawab atas dirinya, tetapi juga orang lain. Mereka menjadi warga dari kebersamaan, bukan sekadar individu yang lepas dari individu lain. Politik menjadi fungsi pengaturan itu: menghasilkan prinsip-prinsip dan aturan-aturan kehidupan bersama, memungkinkan kehidupan bersama berlangsung terus. (Download Buku disini)