Tampilkan postingan dengan label MINANGKABAU. Tampilkan semua postingan

TABUIK PARIAMAN - HARI INI 09112014

Tabuik saat dibuang ke laut
Inilah 'Tabuik Piaman'.. Pesta rakyat Pariaman, Sumatera Barat. Pesta ini dihelat untuk memperingati kematian Husein Cucu Nabi Muhammad SAW yang dipenggal oleh pasukan Muawiyah diperang Karbala, Irak. Prosesi pesta Tabuik dilaksanakan tanggal 1-10 Muharram disetiap tahunnya. Dan acara puncaknya adalah tanggal 10 Muharram. Dimana di acara ini dipertemukan 2 arakan Tabuik yang berasal dari daerah 'Pasa/pasar' dan 'Subarang/seberang'. Dua arakan tabuik itu nantinya akan dipertemukan, yang merupakan personifikasi dari dua kutub yang saling besebrangan. Lalu diadu.... Daarrrr....daaarrrr..

Sore hari menjelang magrib, inilah acara puncaknya. Setelah diarak keliling kota, Tabuik digiring kelaut lalu dibuang. 

Prosesi pembuangan ke laut ini merupakan simbol dari sebuah kesepakatan masyarakat untuk membuang segala bentuk perselisihan dan pertentangan. 

Bagi saya...Pesta Tabuik bukan sekedar Pesta perayaan masyarakat Pariaman dan sekitarnya. Tabuik bagi saya sangatlah memiliki arti penting dalam diri saya. Pasalnya, perayaan Tabuik adalah momen dimana waktu itu saya dilahirkan. Saya dilahirkan dihari puncak pesta Tabuik dirayakan, tepatnya bulan Oktober waktu itu. Dan lokasinya tidak lebih dari 1 KM dari pesta itu dihelat. Beberapa waktu lalu sempat bertanya ke Bapak saya dan mengatakan bahwa "Riuh kemeriahan pesta Tabuik itu sampai ke RS tempat saya dilahirkan".  

Bukan hanya itu saja, pemberian nama 'BOT' diakhir nama saya merupakan penghormatan terhadap Pesta Tabuik tersebut. BOT adalah singkatan dari 'Bulan Oktober Tabuik'. Artinya Saya lahir pada Bulan Oktober yang bertepatan dengan Pesta Tabuik. 

Hoyak Osen....hoyak osen...hoyak osen!!


STASIUN PIAMAN 1935

Sumber: Kitlv.nl
Sebuah stasiun Kereta Api di bibir pantai. Beberapa pejabat stasiun berpakaian putih terlihat berpose menghadap kamera. Matahari bersinar cerah pagi itu. Kok tau itu pagi? Ya, karena sinar matahari datang dari arah belakang, menghantam langsung ke dinding putih stasiun yang bertuliskan "PRIAMAN". Ingat, bahwa Pariaman berada di pantai barat Sumatera. Artinya, sinar datang dari Timur. Timur artinya pagi. Sederhana, bukan? :)Inilah stasiun Pariaman. Sampai sekarang stasiun ini masih ada dan masih berfungsi membawa penumpang dari Padang ke Pariaman dan sebaliknya. Namun kondisinya sudah jelas jauh berbeda.
Stasiun sekarang tenggelam ditengah hiruk pikuknya pasar Pariaman. Berbeda dengan di dalam foto yang terlihat berwibawa, stasiun sekarang terlihat kerdil karena kalah tinggi dengan bangunan-bangunan ruko di sekitarnya.
Tegak lurus terhadap stasiun sekarang adalah jalan besar, dan disanalah deretan ruko serta pasar berdiri. Sejajar dengan rel di depan stasiun juga ada jalan yang membawa kita menuju pantai Gondoriah, pantai wisata kota Pariaman. Kita bisa makan nasi SEK disana. Eits, jangan salah. Nasi SEK adalah istilah lokal yang artinya nasi SEribu Kanyang (Kenyang). Tapi itu dulu, waktu istilah itu baru diciptakan. Sekarang, jangankan kenyang, nasi apa yang bisa dapat dengan duit cuman seribu perak????? :)

MINANGKABAU

AnakDaro
Untuk menelusuri kapan gerangan nenek moyang orang Minangkabau itu datang ke Minangkabau, rasanya perlu dibicarakan mengenai peninggalan lama seperti megalit yang terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota dan tempat-tempat lain di Minangkabau yang telah berusia ribuan tahun. Di Kabupaten Lima Puluh Kota peninggalan megalit ini terdapat di Nagari Durian Tinggi, Guguk, Tiakar, Suliki Gunung Emas, Harau, Kapur IX, Pangkalan, Koto Baru, Mahat, Koto Gadan, Ranah, Sopan Gadang, Koto Tinggi, Ampang Gadang.  
Seperti umumnya kebudayaan megalit lainnya berawal dari zaman batu tua dan berkembang sampai ke zaman perunggu. Kebudayaan megalit merupakan cabang kebudayaan Dongsong. Megalit seperti yang terdapat disana juga tersebar ke arah timur, juga terdapat di Nagari Aur Duri di Riau. Semenanjung Melayu, Birma dan Yunan. Jalan kebudayaan yang ditempuh oleh kebudayaan Dongsong. Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa kebudayaan megalit di Kabupaten Lima Puluh Kota sezaman dengan kebudayaan Dongsong dan didukung oleh suku bangsa yang sama pula.
 
1. Zaman Mula Sejarah Minangkabau
2. Zaman Minangkabau Timur
3. Maharajo Dirajo
4. Suri Dirajo, Cati Bilang Pandai Dan Indo Jati
5. Datuk Ketumanggungan Dan Datuk Perpatih Nan Sabatang
6. Masa Pemerintahan Adityawarman
7. Kerajaan Pagaruyung Sesudah Adityawarman
8. Kedatangan Bangsa Barat Ke Minangkabau
9. Pembaharuan oleh Agama Islam